Menulis Itu Indah – Albert Camus dkk

Example Ad #1 (only visible for logged-in visitors)

Aksara yang Bersikukuh Menamai Dunia; Sebuah Pengantar.

SEJARAH menyisakan banyak hal, begitulah kiranya. Orang bijak bilang sejarah memberikan pelajaran, menawarkan alternatif kebajikan. Yang buruk dari masa silam dibenamkan, yang baik ditegakkan. Jangan menengok pada yang buram karena hidup di kala mendatang memerlukan obor terang.

Sejarah adalah serupa tetumbuhan makna. Kita ditantang merawatnya agar kehidupan tidak lantas menjadi pasak-pasak dengan pucuk yang sarat beban hingga kita mungkin saja tergopoh memikulnya. Babad-babad klasik mengajarkannya pada kita: melalui sabda pendit serta fatwa resi-resi nan bijaksana. Tambo mengisahkan buramnya masa silam agar kita tak kembali terperosok dalam hitam yang serupa.

Demikianlah hieroglif ditata pada dinding-dinding gua di Mesir. Begitu pula maksud aksara Jawa kuno yang tertoreh di lontar-lontar yang berusia lanjut. Telah jauh sejak lama orang berusaha menjelaskan pelbagai hal melalui aksara. Itulah kenapa kultur—kata mengembang menjadi budaya-aksara: fatsun tak sekadar dilisankan dan dipertunjukkan, tetapi juga ditegaskan lewat tamsil dan simbol-simbol. Gutenberg berjasa bukan karena menyebarkan teknik mekanis penggandaan aksara. Ia juga menelusupkan gagasan mengenai pentingnya penguatan makna kata melalui cetak-aksara tersebut. Penggandaan adalah persebaran, catatan menjadi makin teramankan. Sejarahpun dapat terus digulirkan.

Tulisan adalah hasil kreasi, dari zaman kapan pun tradisi-tulis bermula. Istilah produksi kreasi selalu menyangkut karya. Namun, bukan lantas berarti tulisan hendak mengacungkan tangan dan berteriak lantang:”Akulah penggerak jagat!”

BAGI Albert Camus, suatu karya lebih bermaksud menyandarkan sang kreator pada kenyataan hidup yang seringkali bekerja di luar kendali nalar. Karya bertindak sekadar menawarkan, tak memutuskan. Tulisan adalah gambaran, para pembaca dianjurkan menatap dan memakainya.

Kesadaran semacam ini bermula di benak orang-orang yang kemudian dikenal sebagai para penulis berderajat universal—yang tulisan-tulisannya mendunia, yang wangi namanya tak lekang tersaput kala. Namun, kesadaran saja tampaknya kurang memadai, setidaknya begitulah ujaran jujur mereka. Menulis juga adalah persoalan teknis-menata serta cara-menyusun. Mereka tak serta-merta jadi pembesar-pembesar dalam jagat wacana dan dunia kreasi aksara.

Bertrand Russell, misalnya. Ia dengan jujur mengakui bahwa hingga usia 21 tahun mendapatkan pengaruh dari gaya tulisan John Stuart Mill. Lepas dari sosok Mill, ia disetir suatu model tulisan yang diajarkan kakak ipar laki-lakinya. Namun, bukankah tak ada yang salah dengan nuansa, asalkan hal itu bukan plagiasi? Russell sendiri dengan radar mengakui bahwa semua usaha meniru selalu berkaitan dengan ketidaktulusan tertentu.

Demikianlah mengapa Gabriel Garcia Marquez meyakini bahwa ketekunan lebih mendatangkan maslahat daripada sekadar peniruan. Yang mau menulis harus rela berpeluh untuk menemukan rahasia di balik derai-derai halaman buku yang menampilkan deretan aksara itu. Lalu, seseorang itu mesti menyatukan kembali makna dan memahaminya. Bahkan, ia mesti menangkapnya dari sesuatu yang tampak misterius sekalipun.

Setidaknya, tutur—kata dan laku—tulis dari Russell dan Marquez itu adalah percikan yang menjadi maksud buku ini. Niat mempelajari pengalaman mereka adalah hal pertama, dan kenapa mereka menulis adalah pertanyaan serta kupasan selanjutnya.

Kita ingin tahu mengapa George Orwell berhasil memesonakan juga mengajak berpikir publik pembaca melalui karangannya, Animal Farm. Jelas ini bukan sekadar tentang sejak kecil Orwell telah sadar bahwa kelak ia akan menjadi penulis besar. Namun, lebih dari itu, tulisan-tulisannya menampakkan bahwa Orwell menggurat pena dengan mesiu kesadaran-diri yang kemudian turut memantik kesadaran-publik.

Tak berlebihan kiranya jika Jean-Paul Sartre berujar bahwa penulis dapat memandu kita dan jika dia menggambarkan sebuah gubuk, maka sang penulis membuat gubuk itu sebagai analogi ketidakadilan hidup-sosial. Judul “Apakah Menulis Itu?” yang ditulisnya, terjawab dengan penjelasan di atas.

Tak ada yang lepas dari genggaman sang penulis. Menurut Jorge Luis Borges, kegiatan menulis memerlukan pemahaman atas pengalaman manusia yang esensial: kehendak untuk hidup soliter sekaligus solider; kasih dan rasa benci; persahabatan dan perasaan unggul-diri. Semuanya harus dipahami secara utuh dan imparsial. Seorang penulis memerlukan pemaknaan yang dihadirkan dari rahim semesta. Begitulah, menjadi penulis sama halnya dengan menjadi pemimpi yang sadar akan keharusan berbagi cerita. Puisi lebih leluasa mewujudkannya, kira-kira demikian ujar Borges. Dan, Marquez pernah mengatakan: cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik apa yang dapat dia lakukan.

Dalam nada serupa, penyair Mongane Wally Serote dari Afrika Selatan mengatakan bahwa penulis adalah pelayan kemanusiaan sejauh ia menggunakan kata untuk memercayai kompleksitas dari suatu kebenaran. Tulisan menguji kebenaran, bukan memberhalakannya secara tunggal. Itulah kenapa Salman Rushdie ialah korban yang nelangsa akibat tudingan-tudingan yang mengatasnamakan kebenaran terhadap tulisannya. Ia tidak habis mengerti kenapa banyak orang tidak tertarik dengan buku, dan mudah saja menghakimi kreasi aksara, menghina kegiatan membaca, dan membiarkan tulisan menggigil kedinginan. Bagi Rushdie, menulis adalah usahanya menggapai transendensi—ingat, bukan menunjukkan superioritas. Seni menulis harus mampu mencapainya, lalu menyajikannya kepada pembaca. Itulah sebab Rushdie tak jera menata kata dan aksara: novel adalah cinta pertamanya, “arena khusus” untuk wacana yang bertikai di alam pikiran. Novel adalah seruangan lapak bagi imajinasi yang tidak pernah dapat dihancurkan.

Para penulis tak juga berhenti merangkai kata. Umberto Eco bahkan menilai aktivitas menulis sebagai “kewajiban-politis”-nya. Jika tidak punya kendali atas otoritas politik, maka tuliskan keresahan itu bagi orang lain. Inilah tugas yang sebenarnya bagi para sarjana, juga warga negara lainnya, demikian tutur Eco. Kita harus terus berpendapat karena kita wajib menyatakan sesuatu, dan bukan dimestikan karena kita punya kepastian “ilmiah” yang tanpa boleh dibantah.

Bukan maksud para penulis di buku ini untuk menjadi yang paling tahu. Mereka sekadar memberitahu, sudah lama melalui karya mereka dan kini — dalam buku ini — melalui esai-esai mereka tentang dunia kepenulisan. Maka dari itulah, gatra-gatra tentang tulisan dalam kumpulan esai ini pun hadir dengan beragam perspektif. Bahkan, latar belakang “disiplin-kerja” mereka secara “ilmiah” pun beraneka.

Dalam buku ini, Edward Said yang “akademisi” bicara soal etos kepenulisan Naguib Mahfouz. Hal yang sama dilakukan Marquez atas Ernest Hemingway.

Lalu, Mark Twain berkisah tentang lika-liku pelik yang dihadapinya hingga akhirnya bukunya terbit.

Michel Foucault yang filosofis mengajak berdiskusi soal fungsi pengarang dan kaitannya dengan wacana. Milan Kundera sibuk membeberkan definisi-definisi agar tafsir atas karya-karyanya tak dikhianati para penerjemah dipelbagai negara. Nadine Gordimer menyampaikan pendapat yang tak jauh-jauh dari maksud Foucault. Sementara itu, Octavio Paz berbijak kata dengan harapan bisa mendamaikan penulis dan penerbit. Masih ada Virginia Woolf yang mengkritik tugas para kritikus yang tampak serasa diri mereka benar sendiri. Dan Walter Benjamin, yang pemikirannya terserak dalam sekian keping esai, menunjukkan akhir riwayat tradisi oral (dongeng) serta munculnya prosa.

Andaipun disebutkan bahwa buku ini merangkum pengalaman para penulis dunia, senyatanya tidaklah semua. Yang ada dalam buku ini mungkin sebagian kecil saja, tetapi tak mereduksi hakikat awalnya: berbincang tentang pelbagai gatra dari aksara yang diterakan. Walhasil, tak perlu merasa yakin pada apa yang mereka bilang: bukankah tulisan dalam hal ini bukan kemanunggalan kebenaran yang kebal kritik? Maka, baca dan kritiklah. Dan, tak ada salahnya kita mulai mengikuti mereka: bersegera untuk menulis.

Penulis : Albert Camus
Penerbit : Penerbit Octopus – Yogyakarta
:

Example Ad #2 (only visible for logged-in visitors)

Panjang :
Lebar :
Tinggi :
Berat : 0.5
Tebal : –

Baca sample bukunya nya gratis di sini

Tinggalkan komentar

Item added to cart.
0 items - $ 0